Beranda | Artikel
Kisah Ibnu Shayyad (Bag. 4): Pendapat Para Ulama tentang Ibnu Shayyad
13 jam lalu

Pendapat para ulama tentang Ibnu Shayyad

Abu Abdullah al-Qurtubi rahimahullah berkata,

الصّحيح أن ابن صيَّاد هو الدَّجَّال؛ بدلالة ما تقدَّم، وما يبعد أن يكون بالجزيرة في ذلك الوقت، ويكون بين أظهر الصّحابة في وقت آخر

“Pendapat yang benar adalah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, hal ini didasarkan dengan dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya, dan bukan hal mustahil ia berada di pulau tersebut pada waktu itu dan berada di tengah-tengah para sahabat pada waktu lain.”

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

قال العلماء: وقصَّته مشكلة، وأمره مشتبه في أنّه هل هو المسيح الدَّجّال المشهور أم غيره، ولا شك في أنّه دجَّال من الدَّجاجلة

“Para ulama berkata, kisahnya rumit dipahami, dan keadaannya membingungkan, apakah ia adalah Al-Masih ad-Dajjal yang terkenal atau bukan. Akan tetapi, tidak diragukan bahwa ia termasuk dari golongan para penipu (Dajjal).

Para ulama berkata, tampak dari hadis-hadis bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diberi wahyu bahwa ia adalah Al-Masih ad-Dajjal atau bukan, melainkan hanya diberi wahyu tentang ciri-ciri Dajjal. Ibnu Sayyad memiliki petunjuk-petunjuk yang mungkin mengarah padanya, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menetapkan dengan tegas bahwa ia Dajjal atau bukan. Itulah sebabnya beliau berkata kepada Umar radhiyallahu ‘anhu,

إن يكن هو؛ فلن تستطيع قتله

“Jika ia adalah Dajjal, kamu tidak akan mampu membunuhnya.”

Adapun alasan yang dikemukakan Ibnu Shayyad bahwa dia adalah seorang muslim sementara Dajjal adalah seorang kafir; Dajjal tidak memiliki keturunan, sementara dia (Ibnu Shayyad) memiliki keturunan; dan Dajjal tidak akan bisa memasuki Makkah dan Madinah, padahal dia bisa memasuki Madinah dan pergi menuju Makkah; semua ini bukan merupakan dalil karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memberikan sifat-sifatnya ketika fitnahnya muncul dan ketika dia keluar mengelilingi bumi.

Di antara kerancuan kisahnya yang membingungkan dan fakta bahwa ia termasuk dari golongan penipu (Dajjalin) tampak dari ucapannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah?’ dan klaimnya bahwa ia melihat kebenaran dan kebohongan datang kepadanya, bahwa ia melihat singgasana di atas air’, bahwa ia tidak keberatan menjadi Dajjal, dan perkataannya bahwa ia mengetahui tempat kelahirannya dan ayah serta ibunya, serta kesombongannya yang memenuhi jalan.

Adapun sikapnya yang menampakkan keislaman, hajinya, jihadnya, dan pengingkarannya akan tuduhan yang ditujukan kepadanya, itu sama sekali bukan dalil yang menunjukkan secara tegas bahwa dia bukan Dajjal.”

Dari ucapan an-Nawawi ini, bisa dipahami bahwa ia cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal.

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata,

اختلف النَّاس في أمر ابن صياد اختلافًا شديدًا، وأشكل أمره، حتّى قيل فيه كلّ قول، وظاهر الحديث المذكور أن النّبيّ صلى الله عليه وسلم كان متردِّدًا في كونه الدَّجّال أم لا؟

“Orang-orang berbeda pendapat tentang Ibnu Shayyad dengan perbedaan yang sangat tajam dan tampak, masalahnya sangat rumit sampai banyak pendapat yang mengatakan tentangnya. Tampak dari hadis yang disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ragu apakah ia Dajjal atau bukan?”

Ada dua penafsiran tentang keraguan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

  1. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ragu sebelum Allah memberitahunya bahwa ia adalah Dajjal. Ketika Allah memberitahunya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari sumpah yang diucapkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu.
  2. Orang Arab terkadang mengeluarkan ucapan yang mengandung sebuah keraguan, walaupun dalam berita itu tidak ada keraguan.

Yang menunjukkan bahwa ia adalah Dajjal adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abdul Razaq dengan sanad sahih dari Ibnu Umar, dia berkata,

‘Suatu hari, aku bertemu Ibnu Shayyad (bersama seorang Yahudi), ternyata sebelah matanya telah padam dan menonjol seperti mata keledai. Ketika aku melihatnya, aku berkata, “Demi Allah, wahai Ibnu Sayyad! Kapan matamu menonjol?” Ia menjawab, “Demi Allah! Aku tidak tahu.” Aku berkata, “Kamu berdusta, padahal dia ada di kepalamu.” Ia mengusap matanya dan mendengus sebanyak tiga kali.’

Kisah serupa juga pernah disebut dalam riwayat Imam Muslim.”

Dari ucapan Imam Asy-Syaukani ini, tampak bahwa beliau rahimahullah cenderung mengikuti pendapat yang menganggap Ibnu Sayyad sebagai Dajjal.

Imam Al-Baihaqi berkomentar tentang hadis Tamim yang telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya,

“Dajjal besar yang akan keluar di akhir zaman bukan Ibnu Sayyad. Ibnu Sayyad hanyalah salah satu dari para penipu (Dajjal) yang telah diberitahukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kemunculan mereka. Kebanyakan dari mereka telah muncul. Mereka yang yakin bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal besar kemungkinan sepertinya belum mendengar kisah Tamim, karena menggabungkan keduanya sangat sulit. Bagaimana mungkin orang yang hidup pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan menjelang aqil baligh, bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditanya oleh beliau, lalu di akhir umurnya menjadi tua dan dipenjara di suatu pulau, terikat dengan besi dan bertanya kepada mereka tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah dia telah keluar atau belum?!

Maka pendapat yang lebih tepat adalah tidak adanya penjelasan (keterangan) yang pasti (dari Rasulullah) dalam masalah ini.

Adapun sumpah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, maka kemungkinan sumpah ini beliau lakukan sebelum mendengar kisah Tamim radhiyallahu ‘anhu, lalu setelah beliau mendengarnya, maka beliau tidak kembali kepada sumpah yang disebutkan.

Sementara Jabir radhiyallahu ‘anhu, di mana dia mempersaksikan sumpahnya di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mencontoh sumpah yang dilakukan Umar di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jabir radhiyallahu ‘anhu juga termasuk perawi hadis Tamim, sebagaimana disebut dalam riwayat Abu Dawud. Ia menceritakan kisah ‘al-Jassasah dan Dajjal’ seperti kisah Tamim, lalu Ibn Abi Salamah berkata,

“Ada beberapa hal dalam hadis ini yang tidak aku ingat.” Dia berkata, “Jabir bersaksi bahwa ia adalah Ibnu Shayyad. Aku (Ibnu Abi Salamah) berkata, “Sesungguhnya dia telah mati.” Dia berkata, “Walaupun dia telah mati.” “Dia telah masuk Islam,” kataku. “Walaupun dia telah masuk Islam,” katanya. Aku berkata, “Dia telah masuk ke Madinah.” “Walaupun dia telah masuk ke Madinah,” dia menyangkal.

Jabir radhiyallahu ‘anhu bersikeras bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, meskipun dikatakan bahwa ia masuk Islam, masuk Madinah, dan meninggal. Sebelumnya disebutkan bahwa ia berkata, “Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada hari al-Harrah.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

“Atsar yang diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim al-Aṣbahni dalam Tarikh Asbahan menguatkan pendapat bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal. Ia menyebutkan dari jalur Syubail bin ‘Arzah, dari Ḥassan bin ‘Abdirrahman, dari ayahnya. Ia berkata:

Ketika kami menaklukkan kota Asbahan, jarak antara pasukan kami dan kawasan Yahudiyyah adalah satu farsakh. Kami biasa mendatanginya untuk memilih (barang atau tawanan). Suatu hari aku pergi ke sana, ternyata orang-orang Yahudi sedang menari dan memukul gendang. Aku bertanya kepada salah seorang temanku dari kalangan mereka, dia berkata, “Raja kami, yang dengannya kami akan meraih kemenangan atas bangsa Arab, sedang masuk.”

Maka aku bermalam bersamanya di atas sebuah atap. Aku melaksanakan salat Subuh. Ketika matahari terbit, tiba-tiba saja ada keributan di tengah-tengah pasukan. Aku memperhatikannya, ternyata ada seseorang yang mengenakan mahkota dari tumbuh-tumbuhan yang harum, dan orang-orang Yahudi memukul gendang dan menari (berpesta), setelah aku memperhatikannya, ternyata dia adalah Ibnu Shayyad. Kemudian dia masuk ke Madinah dan tidak akan kembali hingga tiba hari kiamat.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Kabar dari Jabir (yaitu tentang hilangnya Ibnu Ṣayyad pada peristiwa al-Ḥarrah) tidak selaras dengan kabar dari Ḥassan bin ‘Abdirrahman. Sebab penaklukan Asbahan terjadi pada masa kekhalifahan ‘Umar sebagaimana diriwayatkan Abu Nu‘aim dalam Tarikh Asbahan sedangkan jarak antara terbunuhnya ‘Umar dan peristiwa al-Ḥarrah adalah sekitar empat puluh tahun.

Kemungkinan hal ini dapat dipadukan dengan memahami bahwa ayah Ḥassan menyaksikan kisah tersebut setelah penaklukan Asbahan dengan jeda waktu sepanjang itu. Dan jawaban dari (lamma) dalam ucapannya ‘Lamma iftataḥna Asbahan’ adalah sesuatu yang dihilangkan (mahzuf), dengan takdir, ‘Aku mulai sering mendatanginya dan bolak-balik ke sana, lalu terjadilah kisah Ibnu Sayyad.’ Dengan demikian, waktu penaklukan Asbahan tidak harus sama dengan waktu masuknya Ibnu Sayyad ke sana.”

Kemudian Syekhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa,

أمر ابن صياد قد أشكل على بعض الصّحابة، فظنُّوه الدَّجّال، وتوقَّف فيه النّبيّ صلى الله عليه وسلم حتّى تبيَّن له فيما بعد أنّه ليس هو الدَّجّال، وإنّما هو من جنس الكهَّان أصحاب الأحوال الشيطانية، ولذلك كان يذهب ليختبره

“Perkara Ibnu Shayyad telah membingungkan sebagian sahabat. Mereka menyangka bahwa dialah Dajjal. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tawaqquf (berdiam diri) atas perkara itu hingga kemudian jelas bagi beliau bahwa Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal, melainkan salah seorang dari para kahin (dukun) yang memiliki kemampuan-kemampuan setan. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya untuk menguji dan menelitinya.”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

والمقصود أن ابن صياد ليس بالدَّجّال الّذي يخرج في آخر الزّمان قطعًا؛ لحديث فاطمة بنت قيس الفهرية، وهو فيصل في هذا المقام

“Maksudnya Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal yang akan muncul di akhir zaman. Hal ini berdasarkan hadis Fathimah binti Qais al-Fahriyyah, dan hadis tersebut merupakan penentu (pemutus) dalam masalah ini.”

Inilah sejumlah pendapat para ulama tentang Ibnu Shayyad. Seperti yang terlihat, pendapat-pendapat itu saling berbeda dan bertentangan mengenai siapa sebenarnya Ibnu Shayyad  dan masing-masing pendapat memiliki dalil.

Karena itu, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berijtihad untuk menyelaraskan berbagai hadis yang tampak bertentangan tentang masalah ini. Ia berkata,

أقرب ما يُجمع به بين ما تضمَّنه حديث تميم وكون ابن صياد هو الدَّجّال أن الدَّجّال بعينه هو الّذي شاهده تميم موثقًا، وأن ابن صياد شيطانٌ تبدَّى في سورة الدجال في تلك المدة، إلى أن توجّه إلى أصبهان، فاستتر مع قرينه، إلى أن تجيء المدة الّتي قدَّر الله تعالى خروجه فيها، ولشدَّة التباس الأمر في ذلك؛ سلك البخاريّ مسلك الترجيح، فاقتصر على حديث جابر عن عمر في ابن صيّاد، ولم يخرج حديث فاطمة بنت قيس في قصة تميم

“Pendekatan yang paling memungkinkan untuk menyatukan kandungan hadis Tamim dengan anggapan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal ialah sebagai berikut: Dajjal yang sebenarnya adalah sosok yang dilihat oleh Tamim dalam keadaan terbelenggu. Adapun Ibnu Shayyad hanyalah seorang setan yang menampakkan diri dalam rupa Dajjal pada masa tertentu. Hingga kemudian ia menuju ke Asbahan dan bersembunyi bersama temannya, sampai datang waktu yang telah Allah tetapkan untuk keluarnya Dajjal.

Karena perkara ini begitu membingungkan, Imam al-Bukhari memilih jalan tarjih (menguatkan salah satu riwayat). Beliau hanya mencantumkan hadis Jabir dari Umar tentang Ibnu Shayyad, dan tidak memasukkan hadis Fathimah binti Qais yang menceritakan kisah Tamim.”

Penutup

Dengan demikian, sampailah kita di akhir dari serial kisah Ibnu Shayyad. Dari pembahasan yang sudah lewat, kita bisa melihat bahwa masalah ini memang tidak sederhana dan para ulama pun berbeda pendapat tentangnya. Hal ini menunjukkan bahwa kisah Ibnu Shayyad termasuk perkara yang tidak mudah dipastikan, dan menjadi bagian dari pembahasan tentang hal-hal gaib yang berkaitan dengan akhir zaman.

Perlu dipahami juga bahwa kisah Ibnu Shayyad ini sering dikaitkan dengan salah satu tanda besar kiamat, yaitu munculnya Dajjal. Karena itu, agar pemahamannya lebih utuh, pembaca bisa melanjutkan dengan membaca pembahasan khusus tentang Dajjal, serta mengenal tanda-tanda akhir zaman lainnya. Dengan begitu, kita tidak hanya memahami satu kisah saja, tetapi juga mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang peristiwa-peristiwa besar yang akan terjadi menjelang hari kiamat.

Wallallahu a’lam.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 3

***

Penulis: Gazzetta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari dari kitab Asyraathu As-Saa’ah, karya Syekh Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hal. 245-267.


Artikel asli: https://muslim.or.id/113139-kisah-ibnu-shayyad-bag-4-pendapat-para-ulama-tentang-ibnu-shayyad.html